Sunday, March 22, 2009

Kremasi, kenapa tidak boleh ?

Beberapa waktu lalu istri saya menyatakan keherananannya ketika ada salah satu temannya yang sama-sama orang Kristen, pada saat meninggal dunia dan dikremasi (dibakar) ternyata pendetanya tidak mau melayani.

Alasannya adalah karena jemaat yang meninggal tersebut dikremasi atau bukan dikubur. Alkitab tidak mengijinkan oran Kristen dikremasi, tetapi harus dikubur. Benarkah atau apakah pendapat itu Alkitabiah sesuai konteksnya ¿

Tulisan di bawah ini dibuat untuk melihat latar belakang (pendekatan) dari pendapat tersebut. Apa dasar ayat Alkitab yang dugunakan untuk mendukung pendapat itu dan bagaimana kita menyikapi seandainya ada orang Kristen lain yang bertanya atau menyatakan pendapat bahwa orang Kristen tidak boleh dikremasi.

Webster's Unabridged Dictionary menyebutkan bahwa kata "kremasi" berasal dari bahasa Latin crematio yang berasal dari cremo yang mempunyai arti membakar, secara khusus pembakaran orang mati menurut adat istiadat bangsa-bangsa kuno. Pada masa kini, kremasi nampaknya menjadi salah satu alternatif yang mulai dipertimbangkan, termasuk oleh orang-orang Kristen. Menariknya, tidak semua denominasi dalam kekristenan menyetujui praktik kremasi. Lebih lagi, nampaknya jauh lebih banyak denominasi yang menolak praktik kremasi daripada menerimanya.. Lebih dari sekedar pemaparan pandangan yang menolak kremasi, tulisan ini juga akan mencoba menggali lebih dalam bagaimana mereka menghasilkan pandangan tersebut dari teks-teks Alkitab. Analisis akan difokuskan pada proses hermeuneutik yang melatarbelakangi pandangan menolak kremasi tersebut.

Pandangan anti kremasi
"Adalah kehendak Allah bahwa kalau orang-orang-Nya mati, harus dikubur, bukan dibakar." Kesimpulan itu diambil setelah memaparkan rangkaian argumentasi yang katanya dibangun atas teks-teks Alkitab. Rangkaian tentang kremasi dapat dirangkum seperti penjelasan berikut.

Pertama, Allah senantiasa berbicara tentang penguburan dan sama sekali tidak pernah berbicara tentang pembakaran jenazah orang percaya di dalam Alkitab. Hal ini nampak pada perintah Allah dalam penguburan Musa, Abraham dan Tuhan Yesus. " Selalu dikubur! Mengapa? Sebab Allah menghendaki penguburan!" Berkenaan dengan penguburan Tuhan Yesus, ditegaskan bahwa Yesus Kristus sudah berpesan agar diri-Nya dikuburkan, sebab dengan tubuh-Nya tersebut, Tuhan Yesus akan kembali menampakkan diri sesudah kebangkitan. Secara imaginatif pandangan yang anti kremasi ini berargumentasi : Apa jadinya kalau mayat anak Manusia Yesus dibakar? Semua tanda-tanda di atas akan lenyap, juga tulang-tulangnya akan hancur semuanya. Berkenankah Allah?
Pasti tidak! Bahkan tulang-tulang-Nya dijaga tetap utuh dan demikian jadinya.

Dengan bertitik tolak pada teladan orang-orang benar di seluruh catatan Alkitab, maka menurut mereka penguburan adalah kehendak Allah, dan pembakaran jenazah (kremasi) adalah pelanggaran terhadap kehendak Allah tersebut.

Kedua, tubuh yang fana adalah "benih" bagi tubuh yang kekal dan sempurna. Dengan bertitik-tolak dari 1Kor 15:35-38, 42-44, dikatakan bahwa tubuh orang percaya yang telah mati adalah "benih" bagi tubuh kebangkitan, oleh karenanya tidak diperkenankan secara sengaja merusak "benih" tersebut melalui kremasi. Dengan demikian disimpulan bahwa kremasi dapat merusak "benih" tubuh kekekalan. Lalu, bagaimanakah yang akan terjadi dengan orang percaya yang terlanjur dikremasi? Pandangan anti kremasi ini menegaskan :
Siapa yang minta dibakar sesudah mati, apalagi ditumbuk sampai halus, harus
menanggung resikonya sendiri untuk kekal, sebab tidak pernah Tuhan menyuruhkan
atau mengizinkan hal ini. Tetapi juga orang-orang yang menyuruh mengkremasikan
mayat-mayat orang beriman akan menanggung akibatnya.

Sayang pernyataan ini tidak mengemukakan secara lebih jauh lagi tentang apa yang disebutnya sebagai menanggung resiko sendiri untuk kekal, dan juga tentang sanksi terhadap orang-orang yang menyuruh melakukan kremasi.

Ketiga, kremasi adalah bentuk ketidaksukaan bahkan penolakan Tuhan. Ayat-ayat yang dipakai adalah bahwa kremasi adalah perkara yang jahat (Am 2:1), bentuk penghukuman Allah yang dahsyat (Yos 7:25, 1Raj 13:2) dan peniruan matinya perempuan sundal (Im 21:9).

Ayat-ayat Alkitab yang sepertinya ‘dipaksakan’ bahwa itu secara tegas dan jelas berbicara mengenai pelarangan kremasi. Untuk sekedar ‘mengamankan’ posisinya terhadap penafsiran ini mereka berkata diplomatis bahwa dalam hal-hal di mana pengajaran Firman Tuhan belum jelas, kita masih dapat memperoleh kebenaran-kebenaran Tuhan dengan meniru apa yang diperbuat oleh Tuhan dan orang-orang suci-Nya dalam Alkitab.

Dengan kata lain, pendapat ini ingin menegaskan Alkitab mengajarkan bahwa Allah senantiasa berbicara tentang penguburan, dan kremasi hanya terjadi pada orang-orang yang tidak berkenan di hadapan-Nya.
Ada lagi pendapat yang lebih ekstrim menyatakan bahwa orang Kristen yang menerima kremasi adalah orang Kristen modernis yang tidak lagi percaya Alkitab. Lebih dari sekedar itu, orang yang menerima kremasi adalah orang yang menganut ajaran Setan.

Beberapa pokok argumentasinya adalah :
Pertama, kremasi adalah paham kafir. Kremasi adalah bagian dari ajaran agama kafir yang menyakini bahwa pembakaran mayat adalah penyucian dosa. Dalam pandangannya, hal ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa penyucian dosa hanya didapatkan melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Dengan demikian, melakukan kremasi adalah tindakan yang menolak ajaran Alkitab dan menganut ajaran kafir. Lebih dari itu, orang yang mau dikremasikan telah menolak anugerah keselamatan Allah.

Kedua, dalam kesaksian seluruh bagian Alkitab, penguburan adalah perintah Tuhan bagi anak-anak-Nya. Banyak sekali referensi Alkitab yang menuliskan bahwa nenek moyang Israel dikuburkan ketika mati, seperti Abraham (Kej 25: 7), Ishak (Kej 35:28-29), dan Yakub (Kej 49:29-33). Ketiga nenek moyang Israel ini mewakili umat percaya seluruh dunia, oleh karena itu anak-anak Tuhan (orang Kristen) harus mengikuti teladan mereka juga. Demikian juga, Perjanjian Baru menyatakan bahwa semua mayat manusia-baik umat Allah atau bukan-harus dikuburkan. Tuhan Yesus sendiri juga dikuburkan, dan kuburan-Nya yang kosong menjadi tanda kasih penyelamatan Allah.

Ketiga, Alkitab menunjukkan bahwa kremasi adalah tanda hukuman dan murka Allah. Ia memberikan begitu banyak contoh dimana penghukuman Tuhan datang dalam bentuk api yang membinasakan seperti dalam contoh-tontoh berikut ini : Sodom dan Gomora (Kej 19:24-25), Nadab dan Abihu (Im 10:1-2), pengikut-pengikut Korah, Datan dan Abiram (Bil 16:1-50), Akhan (Yos 7:9-25), dan pada akhirnya bagi mereka yang tidak percaya pada Yesus Kristus (Wah 20:7-10).

Bagaimana jawaban kita
Pertama-tama kita akan mencoba memahami pola Hermeneutik yang dipakai oleh mereka yang menolak kremasi. Gordon D. Fee dan Douglas Stuart menyatakan bahwa secara luas kata "hermeneutik" meliputi seluruh bidang penafsiran, termasuk eksegesis. Eksegesis adalah hal mempelajari Alkitab secara sistematis dan teliti untuk menemukan arti asli yang dimaksudkan. Dalam pengertian secara sempit, hermeneutik adalah upaya pencarian relevansi teks-teks
kuno untuk masa kini. Dalam tulisan ini, hermeneutik dipahami sebagai upaya mencari arti asli teks-teks kuno berikut aplikasinya untuk masa kini. Dengan demikian, tugas hermeneutik dinilai telah berhasil apabila makna teks-teks kuno, dalam hal ini Alkitab, berhasil disingkapkan sekaligus dipaparkan relevansinya untuk masa kini. Dalam kerangka inilah, kita akan melakukan pemetaan terhadap pola hermeneutik mereka yang menolak kremasi.

Pandangan tentang larangan kremasi dibangun dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan ayat-ayat yang berbicara tentang perlakuan terhadap orang mati. Dari kumpulan ayat ini, ditarik kesimpulan bahwa penguburan adalah senantiasa merupakan perintah Allah bagi anak-anak-Nya yang mati. Tahap kedua adalah pengumpulan ayat-ayat PL dan PB yang berbicara tentang pembakaran atas manusia. Dari kumpulan ayat-ayat ini, ditarik kesimpulan bahwa pembakaran manusia adalah bentuk hukuman dan murka Allah. Tahap ketiga memperlihatkan akibat kremasi bagi orang-orang percaya. Pada tahap ini, ini menemukan bahwa kremasi akan berakibat rusaknya "benih" untuk kebangkitan kelak, dengan berdasar atas 1Kor 15:35-38, 42-44. Lebih lanjut lagi ditegaskan akibat kremasi tidak hanya dialami oleh orang Kristen yang mati, tetapi juga orang yang menganjurkannya.

Pola hermeneutik seperti ini terjadi dengan menambahkan bukti ekstra biblikal bahwa praktik kremasi adalah bagian dari kehidupan bangsa kafir untuk terjadinya penyucian jiwa orang yang meninggal. Dari bukti ekstra biblikal ini, ditarik implikasinya bahwa orang Kristen yang dikremasi berarti telah menolak pengorbanan Yesus Kristus. Dengan demikian orang Kristen yang dikremasi kehilangan anugerah keselamatan.

Benarkah Alkitab senantiasa berbicara tentang penguburan bagi orang-orang kudus-Nya? Masalahnya sekarang adalah benarkah seluruh orang-orang kudus-Nya dikuburkan? Data Alkitab menunjukkan memang semua orang-orang kudus-Nya dikuburkan. Tetapi, ada catatan menarik untuk hal ini. Kejadian 50:2 menujukkan bahwa ketika Yakub mati, maka Yusuf memerintahkan tabib-tabib untuk merempah-rempahi jenazah ayahnya ini (And Joseph commanded his servants the phsicians to embalm his father [NASB]). Bahkan, ketika Yusuf sendiri mati, maka jenazahnya mengalami perlakuan yang sama (Kej 50:26). Pembalseman jenazah yang hasilkan disebut sebagai mumi adalah praktik umum dari bangsa Mesir pada waktu tersebut. Data tersebut di atas juga menunjukkan bahwa ada orang-orang kudus PL yang jenazahnya diperlakukan seperti kebiasaan bangsa Mesir-yang dapat dianggap sebagai bangsa kafir. Tentu saja dibalik proses pembalseman ini, bangsa Mesir mempunyai latar belakang teologis yang melandasinya, yang pasti berbeda dengan perspektif teologis orang-orang Israel waktu itu. Apakah dengan perintah Yusuf agar Yakub dibalsem itu memiliki arti Yusuf telah mengikuti adat istiadat bangsa kafir? Ya, di dalam pengertian praktik tindakannya, tetapi tentu saja ini tidak otomatis berarti Yusuf mempercayai latar belakang teologis yang diyakini bangsa Mesir. Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa melakukan kremasi sama dengan mengikuti kebiasaan bangsa kafir-otomatis disertai mengakui ajarannya-adalah argumentasi yang lemah. Apabila argumentasi ini diterima, maka akan menjadikan Yakub dan Yusuf sebagai penganut agama kafir. Tentu saja ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab.

Apabila Alkitab berbicara tentang penguburan, maka penguburan seperti apa yang dimaksudkannya? Terlalu naif apabila kita mengartikan penguburan itu sama dengan yang umum terjadi di Indonesia di mana jenazah ditaruh d dalam peti dan kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanah. Dalam konteks Israel, pada umumnya penguburan dilakukan tanpa peti mati dan jenazah ditaruh di dalam goa, atau batu besar yang telah dipotong. Nah, dengan demikian, apakah jenazah yang dimasukkan ke dalam peti mati dan dikuburkan di lubang tanah adalah sebuah tindakan pelanggaran firman Tuhan, mengingat hal ini tidak sesuai dengan tradisi orang-orang Israel? Lebih lagi, tidak ada satu pun hukum di PL dan PB yang secara spesifik mengatur tentang perlakuan terhadap jenazah umat Allah.

Apakah Alkitab berbicara tentang api yang menghanguskan manusia adalah tanda hukuman dan murka Allah? Pemaparan Alkitab nampaknya mengafirmasi hal ini. Tetapi, ada hal yang sangat signifikan yang tidak boleh terlewatkan. Dalam catatan Alkitab senantiasa api yang menghanguskan sebagai simbol hukuman Allah tersebut terjadi atas manusia yang masih hidup dan bukan jenazah. Dengan demikian, mengidentikkan api pembakaran sebagai simbol hukuman Allah atas manusia yang masih hidup dengan kremasi atas jenazah adalah hal yang tidak dapat diterima. Dengan demikian, melarang kremasi atas dasar api sebagai tanda hukuman Allah tidaklah dapat diterima.

Lebih lanjut lagi, simbol senantiasa berkaitan konteks yang menyertainya. Di dalam konteks murka Allah, api adalah lambang penghukuman, tetapi di konteks lain api bisa jadi adalah simbol penyertaan Allah (tiang api [Kel 13:21]), bahkan kehadiran Allah sendiri (dalam panggilan atas Musa [Kel 3:2]), dan bahkan melambangkan kehadiran Roh Kudus (dalam Pentakosta [Kis 2]). Penekanan yang berlebihan terhadap api sebagai simbol penghukuman saja, dan dengan demikian melarang kremasi adalah penindasan terhadap kesaksian Alkitab.

Penutup
Kita telah melihat kesalahan-kesalahan tertentu dalam pola hermeneutik mereka yang menolak kremasi.
Kita bersyukur bahwa GSRI tidak pernah melarang orang Kristen dikremasi. Tidak sulit bagi kita membayangkan kuasa Tuhan untuk membangkitkan mereka yang dikremasi pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Ilmu pengetahuan moderen saja terbukti dapat mengidentifikasi mayat yang hancur karena suatu musibah, apalagi Tuhan.

Dengan demikian, sebenarnya tidak dijumpai larangan untuk melakukan kremasi dari teks-teks Alkitab. Kita mengakui bahwa penguburan telah menjadi tradisi budaya orang percaya dari masa ke masa. Ketika penguburan dipandang sebagai tradisi, maka perubahan tentu bukanlah hal yang terlarang. Kremasi adalah bagian dari kemungkinan perubahan tersebut. Apalagi, tidak ada larangan secara eksplisit maupun implisit dari Alkitab untuk melakukan kremasi. Jadi, "... whether final disposition is by burial or cremation, the Christian church should offer a funeral liturgy in which the reality of death is not camouflaged, and the resurrection of the body is affirmed."

Amin.

Indra S.

Note : Diringkas dari berbagai sumber.

1 comment: